Jejak Sejarah Kepemimpinan Desa Giriwungu: Dari Kalurahan Pudak hingga Transformasi Menjadi Kepala Desa
Gunungkidul, Mediarakyat.co.id – Desa Giriwungu, yang terletak di Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DIY, memiliki perjalanan panjang dalam hal kepemimpinan yang penuh dengan perubahan dan dinamika sejarah. Seiring dengan perubahan zaman, desa ini terus berkembang dan bertransformasi, baik dalam struktur pemerintahan maupun dalam aspek sosialnya.
Kepala Desa Giriwungu saat ini, Tulus, menjelaskan bahwa disusunnya sejarah desa ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai asal-usul dan perjalanan para pemimpin yang pernah memimpin desa tersebut. Ia berharap agar sejarah ini dapat menjadi pelajaran dan pengetahuan yang berharga bagi generasi berikutnya.
Pada awalnya, pemerintahan di Desa Giriwungu menggunakan sistem kerajaan pada tahun 1935, dengan sebutan Demang, Lurah, Bekel, hingga Prabot. Saat itu, wilayah ini bernama Kalurahan Pudak, yang pusat pemerintahannya berada di Padusunan Pudak. Pemimpin pertama adalah Djajeng Sudiro, seorang lurah yang memimpin selama 11 tahun dari 1935 hingga 1946. Setelah masa kepemimpinannya berakhir, Hardjo Wardojo dari Dusun Jurug diangkat sebagai Lurah Kedua dan memimpin selama 19 tahun hingga 1965.
Pemerintahan di Kalurahan Pudak sempat terganggu oleh peristiwa besar, yakni Gerakan 30 September yang melibatkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam situasi darurat tersebut, Lurah Hardjo Wardojo mengundurkan diri, dan pemerintahan pun sempat kosong. Dalam keadaan genting itu, Pruter Prahudi, seorang anggota TNI yang bertugas di Koramil Panggang, diangkat menjadi Lurah Ketiga pada tahun 1965. Ia memimpin selama dua tahun, hingga 1967.
Pada tahun 1967, pemerintah Indonesia mulai membentuk sistem perwakilan rakyat di tingkat desa. Proses ini membawa perubahan besar bagi Kalurahan Pudak, yang kemudian berganti nama menjadi Kalurahan Giriwungu. Nama baru ini diambil dari pohon Wungu yang langka dan tumbuh di lokasi bersejarah di Pedukuhan Klepu Pejaten. Pohon ini dianggap keramat oleh masyarakat setempat, dan untuk menghormatinya, nama kalurahan diubah menjadi Giriwungu—gabungan kata "giri" yang berarti gunung, dan "wungu" yang merujuk pada pohon langka tersebut.
Seiring berjalannya waktu, Kalurahan Giriwungu semakin berkembang. Pada tahun 1967, R. Noto Prabowo menjadi Lurah Keempat setelah melalui proses pemilihan oleh DPR kalurahan. Ia memimpin desa ini hingga 1974, setelah itu berlangsung pemilihan langsung untuk memilih lurah selanjutnya. Pada pemilihan tersebut, Mudji Hardjono terpilih sebagai Lurah Kelima, meskipun ia hanya memimpin selama tiga tahun karena melanjutkan kariernya sebagai Pegawai Negeri Sipil di luar daerah.
Proses pemilihan langsung kembali dilakukan untuk memilih Lurah Keenam, dan R. Noto Prabowo terpilih kembali pada tahun 1977, memimpin Giriwungu hingga 1996. Selanjutnya, pada periode 1996 hingga 2004, Suparno menjadi Lurah Ketujuh, dan Satari terpilih sebagai Lurah Kedelapan pada tahun 2004. Pada masa kepemimpinan Satari, sebuah perubahan besar terjadi, yaitu penggantian gelar "Lurah" menjadi "Kepala Desa" sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku pada tahun 2007.
Setelah masa jabatan Satari berakhir pada 2014, kepala desa Giriwungu diisi oleh penjabat sementara, Suratini, yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Desa. Namun, Suratini meninggal dunia setelah hanya menjabat selama 10 bulan. Posisi tersebut kemudian diisi oleh Patah, seorang PNS yang berasal dari Jurug, Giriwungu.
Pemilihan Kepala Desa Giriwungu pada 24 Oktober 2015 diikuti oleh dua kandidat: Aziz Nurmanto dari Dusun Pudak dan Tulus dari Dusun Pejaten. Tulus terpilih sebagai Kepala Desa Giriwungu pada pemilihan tersebut dan memulai masa jabatannya dari tahun 2015 hingga 2021.
Perjalanan panjang Desa Giriwungu menunjukkan dinamika yang luar biasa dalam hal kepemimpinan dan perubahan sosial. Setiap pemimpin membawa visi dan kontribusi berbeda yang memajukan desa ini. Sejarah tersebut bukan hanya tentang orang-orang yang memimpin, tetapi juga tentang semangat masyarakat untuk terus maju dan bertransformasi sesuai dengan tuntutan zaman. Sebagai Kepala Desa saat ini, Tulus berharap bahwa penulisan sejarah ini dapat memberikan pemahaman dan kebanggaan kepada masyarakat, serta menjadi pelajaran berharga bagi generasi mendatang.


